Cuaca dingin terasa menusuk karena kabut pagi yang masih terjaga di atas tanah. Walaupun bukan musim dingin, kota yang dikelilingi oleh banyak bukit dan pegunung ini selalu terasa dingin setiap waktu. Dengan kondisi mata yang masih mengantuk dan juga matahari yang baru mulai bersinar, lelaki itu berjalan keluar rumah dengan pakaian serba rapi dan tas di punggungnya. Meyusuri pematang sungai yang indah karena di pinggirannya ditanami pohon tatebuya
.
“ah,
ini sudah waktunya ya” katanya. Ia berhenti sejenak untuk melihat bunga yang
bermekaran dari pohon tatebuya tersebut. Ada beberapa bunga yang jatuh ke sungai
menambah indahnya suasana. Ikan yang berada di sungai jernih ini juga tampak
seperti sedang berdansa dengan kawanannya. Jika disamakan, bunga pohon ini
mirip dengan pohon sakura yang berada di jepang. Tetapi bunga pohon ini juga
ada yang berwarna kuning bahkan ada jua yang berwarna putih, cantik sekali
bukan.
Ia
kemudian duduk di sebuah kursi yang ada disana sembari mengecek gadget-nya
jika ada sebuah pesan. Yah, walaupun ada ia tidak akan langsung membalasnya. Ia
bukanlah tipe orang yang akan langsung membalas chat seseorang jika itu bukan
sebuah pesan penting. Setelah beberapa saat membaca pesan yang masuk, ia lalu memasukkan gadget-nya kembali ke saku
celananya.
Ia
memejamkan matanya dan menarik napas panjang sembari mendongakkan kepalanya
kearah langit.
“aku
tidak percaya bisa bertahan sampai sekarang, mungkin karena penyesalanku-lah yang
memberiku kekuatan untuk bertahan hidup hingga saat ini. Tuhan, jika jalan
hidupku akan penuh dengan luka dan tangisan, aku rela asalkan engkau sudi untuk
memaafkanku” batin lelaki itu. Air matanya mengalir disertai dengan senyuman
perih di bibirnya.
“WOI
AL!!!—” teriak seorang lelaki tepat di telingaku. Sontak saja aku memukulnya
dengan reflek cepat dan orang itu tersungkur ke belakang. Ternyata dia adalah
Dio Prakoso, sahabatku yang akan masuk di SMA yang sama denganku tahun ini.
Kami sempat beda sekolah saat kelas 3 SMP karena Dio ingin mengejar wanita yang
ia incar tetapi ia tetap gagal juga untuk merebut hatinya.
“Eh,
maaf, SENGAJA!” kataku dengan nada enteng.
“Aaaww”
kata Dio.
“Huaaaa!....
apakah bibirku berdarah? Apa hidungku mimisan? Kenapa kau memukulku dasar bodoh.
Bagaimana jika ketampananku pudar karena ada luka di wajahku…. eh… tapi itu
tidak mungkin. Ha-ha-ha.” Sambungnya dengan tawa sombong dan rasa percaya diri
yang terlalu tinggi.
“Tampan?
HAH! Sikat gigi dulu sana!” ucapku.
“Kau
menangis Al? apa kau mengingat kejadian waktu itu lagi?” tanya Dio mengabaikan
pernyataan Al barusan.
“WHAT?
Apa yang kau bicarakan! Ayo berangkat, kita sudah hampir telat untuk acara
penyambutan murid baru” ucapku. Walaupun aku tidak peduli dan sangat malas
untuk datang ke acara tersebut. Dio pun bangkit dari duduknya dan berjalan
disampingku lalu ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 7:56
a.m, yang artinya acara penyambutan murid baru dimulai 4 menit lagi .
“Hmmm,
mungkin ini tidak benar. sepertinya jam tanganku rusak” gumam Dio.
“Coba
lihat punyamu Al, apa ini memang benar sudah pukul 7:56 a.m” sambungnya.
Aku
melirik jam tanganku sekilas bahwa jam tangan milikku pun menunjukkan waktu
yang sama.
“Iya
benar. Lalu kenapa?” kataku santai. Toh, acara penyambutan itu pasti akan ada
pidato ba-bi-bu dari kepsek yang sangat lama dan membosankan jadi aku tidak ingin
hadir di acara tersebut di awal waktu.
“Lalu
kenapa kau bilang?! Kita sudah telat Al, aku dipilih sebagai perwakilan dari
siswa baru untuk berpidato di depan para murid baru” kata Dio panik
“Itu
masalahmu, bukankah yang dipilih untuk berpidato sebagai perwakilan murid baru adalah
kau bukan aku?...” sambungku tidak peduli dengan kepanikannya. Memang untuk apa
sih harus ada acara penyambutan segala.
“Ayo cepat!”
ucap Dio sambil menarik tanganku.
“Lepaskan
brengsek, aku bukan homo” kami berdua segera bergegas menuju ke sekolah baru kami,
dan aku memohon semoga 3 tahun kedepan keadaan akan semakin baik.
----***---
Dengan napas
tersenggal-senggal kami berhasil sampai di sekolah baru kami. Tetapi anehnya
gerbang tersebut tidak ditutup meskipun sudah pukul 8:03, atau mungkin karena
ini adalah hari pertama masuk sekolah bagi murid baru jadi satpam berbaik hati
jika ada murid yang terlambat agar tetap bisa mengikuti acara penyambutan. Dan
memang benar, ada beberapa yang datang terlambat bahkan masih ada murid yang
berjalan santai sembari mengobrol dengan teman barunya menuju ke aula
penyambutan. Aku merasa menyesal karena harus mengeluarkan 4 persen tenagaku
untuk berlari barusan. Bukankah itu sangat merepotkan harus mengeluarkan banyak
stamina hanya untuk hadir di acara ini.
Aku dan
Dio memasuki ruang aula yang sudah dipenuhi oleh murid baru. Kami berjalan
menuju tempat duduk yang masih terlihat kosong, wajarlah jika hanya ada
beberapa bangku yang kosong karena kami datang terlambat.
“Permisi,
apakah kursi ini masih kosong?” tanyaku pada seorang gadis yang berperawakan
langsing dengan rambut merahnya yang mirip dengan buah rambutan.
“Iya,
masih kok.. Silahkan duduk…” jawabnya dengan lembut dan sopan. Ah, mungkin ini
hanya formalitas karena kami belum saling mengenal.
“Makasih..”
ucapku.
Acara penyambutan dimulai pukul 8:15, memang
kebiasaan ngaret ya rakyat negara ini. Batin Al, padahal dia sendiri juga
ngaret 3 menit dari yang seharusnya. Acara dimulai ketika seorang MC naik ke
panggung dan mengucapkan berpatah-patah kata yang sangat membosankan. Dan akhirnya
sang kepala sekolah pun disebut oleh MC untuk menyambut kedatangan kami semua.
Aku mengangkat kepala untuk
meregangkan leher dan mengambil napas Panjang. aku sudah tidak tahan dengan hal
ini. Kapan sih acara membosankan ini selesai?!. lagian apa-apaan coba dengan
pidato kepala sekolah ini, sudah 30 menit ia belum juga selesai mengoceh di
depan sana. Aku menyilangkan tangan di dadaku dan memposisikan tubuh se-rileks
mungkin, perlahan mataku terpejam dan hanyut dalam tidur.
“Al… Al.. kau mendengarku? Kau tidak
mati bukan?” usik Dio kepadaku yang baru saja pulas tertidur. Ia merangkulku
dan tangannya menunjuk kearah seseorang di sekitarnya. Astaga Dio, padahal aku hampir
saja mendapat mimpi indah.
“Kau lihat kearah sana, gadis itu
sangat cantik bukan. Dan disana, disana juga, itu juga. Hebat sekali, memang
tidak salah aku memilih sekolah disini bersamamu. Hahaha” ucapnya girang tetapi
sepertinya gadis yang duduk disebelah Dio merasa terganggu dengan sikapnya.
“Menjijikan sekali, bisa kau hentikan
hal itu. Sedari tadi kuperhatikan kau terus saja melirik gadis disekitar dengan
tatapan mesum.” Ucap gadis itu dengan ekspresi wajah marah.
“Menjijikan kau bilang. Dengarkan hal
ini wahai nona berambut merah atau jika Al bilang adalah gadis rambutan. Asal
kau tahu saja, aku adalah pecinta wanita nomor satu di dunia. Apa kau mau aku
lirik juga tuan putri..” senyuman Dio tampaknya membuat gadis itu semakin
marah. Lagian anak ini selalu saja menganggu setiap gadis yang menarik
perhatian matanya.
Dahi gadis itu mengerut dan merapatkan
alisnya ke-tengah, tangannya juga sudah mengepal mendengar pernyataan Dio
barusan. “Gadis rambutan? Apa kau bilang.. mana yang bernama Al tersebut. Dasar
kau…” belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, seorang Ketua Osis yang
menjadi MC acara ini mengambil alih panggung menggantikan kepala sekolah.
“Baiklah, untuk acara selanjutnya.
Adalah sambutan dari perwakilan murid baru di sekolah ini. Kepada saudara Dio
Prakoso selaku perwakilan murid baru, waktu dan tempat kami persilahkan”
Dio berdiri dari kursinya dan berjalan
kearah panggung. Banyak pasang mata tertuju kepada Dio saat ini, itu membuatnya
sangat gugup. Tetapi ia tetap berjalan se-cool mungkin menuju panggung,
sepertinya ia ingin membuktikan betapa gagah dirinya. ia mulai menaiki anak tangga
satu persatu, kepala sekolah dan ketua osis menyambut Dio dengan menjabat
tangannya. Lalu Dio menuju podium tempat kepala sekolah berpidato barusan.
Ia mengambil mic agar lebih dekat
dengan mulutnya dan mengetuk mic kecil itu dengan jarinya untuk mengeceknya.
Dengan posisi tegap ala orang terhormat, Dio memulai pidatonya sebagai
perwakilan murid baru.
“Kepada Kepala Sekolah, Guru dan para
Staff yang terhormat, juga kepada Ketua Osis saya ucapkan terima kasih karena
telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berdiri disini untuk berpidato
sebagai perwakilan dari murid baru di sekolah ini….”
Dio mulai
berpidato panjang lebar tetapi arah pembicaraannya amburadul, Posisi tegapnya
tadi juga sudah hilang. Hahaha, aku yakin kalau saat ini Dio sangat gugup.
Rasakan itu, siapa suruh mau jadi perwakilan untuk berpidato.
“Sebelum saya melanjutkan pidato
saya, saya memohon kepada ketua osis untuk mengizinkan sahabat saya maju
kedepan. Ada beberapa hal juga yang ingin dia sampaikan..” Dio pun melihat kearah
Al disertai senyum jahatnya.
T- tu -tunggu
dulu, apa yang kau maksud dengan beberapa hal yang ingin disampaikan!? Ah sial,
si bodoh ini pasti berusaha untuk menarikku ke sana agar menggantikannya
berpidato.
“iya silahkan..” jawab Ketua Osis
menerima permintaan Dio.
“Baiklah,
untuk sahabat saya yang bernama Al yang duduk di sebelah gadis rambutan. Waktu
dan tempat saya persilahkan” lanjut Dio. Ia juga menggunakan laser untuk
menunjuk keberadaanku. Sejak kapan ia mempersiapkan hal ini, bukankah itu tidak
sopan. Si bodoh ini, walaupun ia pintar tetapi otaknya sangat bermasalah. Ia
terpilih sebagai perwakilan karena nilainya adalah yang tertinggi diantara
semua murid baru yang ada disini. Tetapi sikapnya itu yang sangat menyebalkan.
Saat itu juga semua pasang mata tertuju kepadaku.
“Siapa yang kau maksud dengan gadis
rambutan!” jawab gadis yang duduk disampingku itu dengan kesal kepada dio
dengan tatapan tajamnya. Lalu ia mengalihkan pandangannya kepadaku karena tahu
jika akulah yang memberikan julukan tersebut.Aku hanya meliriknya sekilas. Dan
ia memang sangat marah dengan hal itu. Aku berjalan ke tempat Dio berada, Dio
hanya cengar cengir karena berhasil membawaku kesini. Sedangkan semua orang
memandang aneh kami berdua.
“Apa maksudmu idiot!” ucapku dengan
lirih tetapi tegas kepada Dio.
“Hehe… seru bukan ditatap oleh banyak
orang seperti sekarang ini. Dan juga ini adalah debut kita berdua agar lebih
dikenal.” Jawab Dio slengean. Aku hanya berusaha tersenyum kepada hadirin,
tetapi itu malah lebih terlihat seperti seringaian.
“Sebenarnya aku bingung harus berbicara
apa lagi. Catatanku untuk hafalan hilang tadi malam, jadi …” Dio tidak
melanjutkan omongannya. Ia hanya tersenyum kepadaku. Astaga, aku akan
membalasnya saat ini juga.
“Tenang, aku tahu kau akan berakhir
seperti ini jadi aku sudah mempersiapkan catatan kecil untukmu yang berisi
beberapa point penting” aku pun mengambil secarik kertas di saku-ku dan
menyerahkannya kepada Dio. Ia pun tampak tenang setelah aku memberikan sebuah
kertas kecil kepadanya,
“Maaf atas kejadian sebelumnya,
jadi kami sebagai perwakilan disini ingin mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya.. dan juga…” lanjut dio sembari membuka lipatan kertas
yang diberikan oleh Al. “HEI AL, KENAPA TIDAK ADA ISINYA?” ujarnya
dengan keras dan melihat kearahku dengan raut muka terbaiknya yang pernah aku
lihat. Aku memutar bola mataku mengalihkan pandangan kearah lain. Seketika itu
juga seluruh ruang aula dipenuhi dengan gelak tawa.
---***---
Acara penyambutan akhirnya selesai
juga. Aku menuju ke sebuah kursi Panjang yang ada dibawah pohon di taman
sekolah. Sedangkan Dio menjalankan hobinya dengan berkenalan dan menggoda
gadis-gadis di sekolahan ini. Ada yang terlihat senang karena bisa berkenalan
dengannya wajar saja karena ia termasuk laki-laki yang memiliki wajah tampan tetapi
ada juga yang tampak risih dengan kelakuan Dio. Anak ini, untung saja tadi aku
berhasil membalas perbuatannya jika tidak bagaimana dengan nasibku di sekolah
ini.
“aahhh, udara hari ini terasa sangat
segar. Atau mungkin karena aku berada di bawah pohon yang rindang” aku
mendongakkan kepala kearah langit. Cuaca hari ini terlihat cerah, rambutku yang
cukup panjang ikut menari-nari tertiup angin siang ini. Aku memang suka
memelihara rambut hingga panjang karena suatu alasan tertentu.
Aku kembali menundukkan kepalaku dan
menoleh kekanan. Bukankah itu gadis yang tadi duduk disamping Dio, batinku. Ia
sangat fokus dengan buku bacaanya. Jika dilihat dari samping seperti ini wajahnya
sangat cantik dan seperti orang yang baik hati. tetapi bukankah ia tipe yang
sangat bawel namun kenapa terlihat seperti orang lain saat sedang membaca buku.
Ketika ia menyibakkan rambutnya ke belakang telinga, ia menoleh kearahku, dan
untuk beberapa saat pandangan kami bertemu. Mata besar berwarna ungu yang tidak
kontras dengan warna rambutnya itu mengingatkanku akan seseorang di masa lalu.
Sangat tenang dan menyejukkan tetapi berubah drastis saat ia mulai berbicara.
Mungkin ini hanya kebetulan, tetapi biarlah…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar