Sabtu, 18 Januari 2020

Flying Hope - Circle baru


Krssk krskkk . .. . .
Kepada seluruh siswa baru kelas X harap untuk segera masuk ke kelas dan mencari kelasnya masing-masing.
Suara speaker itu menyadarkan seluruh siswa yang masih berhamburan di sekitar gedung sekolah agar segera mencari kelasnya masing-masing.. Ada yang terburu-buru tapi ada juga yang malah menjelajah kuliner di kantin sekolah seperti halnya Al.

“Tahu tempe bakwan kerupuk, oke semuanya sudah lengkap. Baksonya juga sudah datang.” Ujarnya yang tampak antusias dengan jajanannya. Ia mengambil peralatan makan dan meracik makanannya dengan mencampur saus, sambal, dan juga kecap ke dalam semangkuk bakso.
“Ehmm hm, untuk nilai makanan ini aku beri poin 10 dari 10,01. Cukup baik untuk sebuah jajanan kantin di sekolah.”
“Eeeh, kenapa tidak nilai sempurna? Padahal menurutku makanan ini sangat lezat!” Tanya seorang gadis sembari memberikan senyumnya kepada Al yang tidak sengaja mendengarnya bergumam. Ia duduk di kursi depannya sehingga wajah mereka saling berhadapan. Ada seseorang yang mau untuk memulai pembicaraan dengan Al adalah suatu hal yang langka. Dengan tampang seperti itu, tidak jarang dari mereka yang lebih memilih menghindar darinya.
Al hanya melihat gadis itu sekilas lalu membuang pandangannya menuju makanannya kembali.
“Cuek banget sih, padahal tadi kamu keliatan keren di atas panggung” goda gadis itu yang membuat Al hampir saja tersedak dengan makanannya.
“Yaudah aku tinggal ya. Oh iya, jangan terlalu lama menghabiskan makananmu. Nanti kamu bakal ketinggalan kelas” sambungnya sembari melemparkan senyum manisnya dan melambaikan tangannya.
          Siapa dia? kami bahkan belum pernah bertemu sebelumnya. Aku terus memandang punggung gadis itu yang sedang berjalan menjauh dariku. Sebelum aku sadar bahwa ini sudah waktunya untuk masuk ke kelas tetapi aku malah bersantai di kantin.
“Kelas? Waduh gawat, aku bahkan belum sempat untuk mencari kelasku…” aku bergegas menuju gedung tempat pembelajaran. Tetapi sebelum itu aku melepas sepatuku dan menaruhnya ke dalam loker lalu memakai sepatu khusus yang digunakan saat berada di dalam gedung sekolah. Aku berlari menuju ke lantai 3 gedung ini karena dari informasi yang kudengar saat upacara sambutan tadi untuk kelas seluruh murid baru ada di lantai 3. Aku mengecek satu persatu pintu yang ditempeli sebuah kertas berisikan daftar nama penghuni kelas ini untuk satu tahun ke depan. Karena namaku berawalan dari A maka akan sangat mudah untuk menemukannya tapi kenapa dari tadi belum juga muncul namaku, padahal sudah sebanyak 6 ruangan yang aku cek. Aku berjalan kembali menyusuri lorong kelas yang bergaya ala sekolahan Jepang dengan lantai kayu dan lorong kelas yang tertutup (memiliki ruangan) dan berjendela tidak seperti kebanyakan sekolah di Indonesia, aku merasa ada ruangan yang terlewat saat aku berlari tadi. Di pintu kelas yang terpampang papan bertuliskan 1-2 itu aku mengecek kembali daftar nama. Mungkin jika aku membaca dari urutan terakhir suatu keajaiban akan terjadi.
“Baiklah, mulai dari Riana Tai? Hahaha, yang benar saja. Mungkin masudnya adalah Tia. Lalu ada Sheena, Kurniawan, Dio. Dio? Jadi dia ada di kelas ini. Ali Farel. Ah ini dia, tapi sebentar, aku satu kelas dengan sialan itu? Oh tuhan…” Aku menarik tuas pintu yang berwarna putih itu dan melihat keadaan kelas yang akan aku tempati tahun ini. Ketika pintu terbuka, seluruh kebisingan yang ada di dalam ruangan seperti menghempas ke wajahku. Ada yang sedang mengobrol tentang sekolah mereka dahulu, ada yang mengobrol tentang model majalah terkini, ada yang mengobrol tentang guru paling hot dan seksi di sekolah ini. Walaupun belum ada seharian penuh mereka berkenalan, mereka sudah mengelompokkan diri mereka sesuai dengan kasta pergaulan.
Ada kelompok berandalan yang sangat berisik ditengahi oleh orang berbadan besar. Ada juga kelompok yang mirip seperti model karena pakaian lalu dandanan mereka sangat kekinian ditunjang dengan wajah mereka yang cocok memakai item tersebut. Ada kelompok anak culun yang saling berbagi nasib melas mereka. Dan ada juga kelompok  yang biasa saja, yang tidak menarik, bahkan tidak menarik sedikitpun, menarik pun tidak, tidak menarik sama sekali, ah sudahlah….
          “HUaaaa. Kelaaaas, dimana kelaskuu….” Suara itu terdengar menggema di sepanjang lorong kelas. Ia terlihat berlari menuju arahku yang baru membuka pintu dan belum sempat memasuki kelas.
          “Ke.. kelass….” Ia berhenti tepat di depanku dengah napas terengah-engah ia mencoba mengatakan sesuatu.
          “Hanya ini yang belum aku periksa… semoga.. semoga….. coba kulihat” Tangannya menunjuk ke daftar nama yang ditempel di pintu kelas.
          “K.. dimana huruf K… Kur… Kurni… Kurniawan Wicaksono…..aaaah akhirnya ketemu juga” Ekspresinya seperti orang girang, yah memang girang sih untung saja bukan tante girang.
          “Hei kau, bisa minggir dari situ. Aku mau lewat” ucap seorang wanita di belakangku. Oh tidak, aku kenal dengan suara ini. Aku mencoba menoleh dengan pelan dan benar saja ia adalah gadis yang tadi ada di upacara pembukaan. Gawat gawat gawat, aku harus bersikap cool saat ini.
          “Hm?, ada apa” jawabku sembari memakan bakso yang aku masih aku bawa dari kantin tadi, sayang sekali kan kalau makanan kita tinggal hanya karena terburu-buru. Lagipula aku sudah membayar makanan ini, nanti tukang baksonya untung dong kalau makanannya tidak habis ia bisa memasukkan kembali baksonya kembali ke dalam panci sebagai makanan daur ulang dan itu bisa menghemat pengeluaran belanjanya.
          “Bukankah kau yang tadi..” Raut mukanya berubah menjadi marah.
          “Yang tadi?”
          “Jangan pura-pura lupa denganku, kau yang memberiku julukan gadis rambutan itu bukan!” Kedua tangannya memegang kerah bajuku.
          Tapi kau memang mirip rambutan. Kau kira aku akan menjawab seperti  itu?! tentu saja tidak. “Tidak, aku tidak akan berbagi bakso ini denganmu”
          “Kau mau merubah topik pembicaraan hah!”
          “Maaf.” Jawabku sembari melanjutkan makanku.
          “Ada apa dengan maaf-mu itu, KAU TIDAK BERNIAT MEMINTA MAAF YA!” sentaknya.
          “Pokoknya aku tidak akan berbagi bakso ini dengamu!” tanganku mencoba menyembunyikan semangkuk bakso dari hadapan Sheena.
          “Huh, lupakan saja. Kau memang menyebalkan” Ia pun melepaskan genggamannya.
          “Hei hei, kenapa kalian seru sendiri dan tidak mengajakku. Kau jahat sekali Tuan Putri Sheena Veronica” sela Dio di tengah konflikku dengan gadis itu.
          “Jangan seenaknya sendiri merangkulku dasar bodoh…” Bhug, satu pukulan tepat mendarat di perut Dio. Tetapi bukannya kesakitan ia malah seperti masokis yang bahagia ketika disiksa.
          “Eeeh, jadi namamu Sheena.” Ucapku lirih
          “Lalu kenapa!” Ia kembali menatap kearahku dengan mata melotot.
          Aku membuang pandanganku lalu menyeruput sesendok kuah bakso yang masih tersisa “Mmm, sudah kuduga. Ada yang kurang dari makanan ini”
          “Jangan coba mengabaikanku kau!” Bhugg, ia melayangkan pukulan kearah perutku juga. Ah sial, hampir saja semua makanan yang susah payah aku kunyah dan berhasil masuk ke dalam perut keluar lagi. Dan juga dia ini wanita bukan sih, pukulannya cepat sekali sampai-sampai aku tidak bisa menghindar. Dasar gorilla.
          “Pffftt, bertahanlah Al. Kau seperti orang bodoh yang menahan BAB saat sedang terjebak macet di jalanan” ujar Dio bahagia dengan keadaanku saat ini. Tetapi setelah itu lelaki yang tadi ikut tertawa dengan tingkah kami bertiga.
          “Kalian akrab sekali ya.”
          “Mana ada!” Jawabku dan Sheena dengan serentak.
          “Tuhkan, apa aku bilang. Kalian memang akrab”
          “Aku bilang tidak!” jawab kami serentak lagi.
          “Hei, jangan meniru apa yang aku bicarakan” ujarku.
          “Apa! Aku menirumu? Justru kau yang meniruku” ucap Sheena dengan kesal dan mengarahkan jari telunjuknya ke jidatku.
          “Perkenalkan, namaku Kurniawan.” Ia menjulurkan tangannya kepadaku dan kami bersalaman. Tetapi tangan orang itu sangat basah karena keringatnya. Aku melihat ke telapak tanganku sejenak. Oh sial, ini menjijikan, lalu…
          “Menjijikan, terima ini” aku mengelap bekas keringatnya yang menempel di tanganku ke wajah Sheena dan Dio lalu aku berlari ke bangku tempat tas Dio berada.
          “AL, awas kau… Kau juga…” ujar Sheena marah dan mengarahkan pukulannya ke perut Kurniawan juga. Dan akhirnya lengkap sudah kami bertiga menerima pukulan dari wanita bertenaga gorilla tersebut.
“Hei Al, setidaknya jangan kau nodai wajah cantik Sheena.” ucap Dio.  “Aah, tapi ini gak mengurangi kecantikanmu kok Tuan Putri” Sambungnya
sembari menggoda Sheena.
“Ahahah, seharusnya aku mengelap tanganku dulu ya. Maaf maaf” jawab Kurniawan dengan wajah bodohnya.
“Kau Telat” ucap Dio dan Shena bersamaan.
---***---
          Al mengambil tas Dio lalu memindahkan ke bangku di sebelahnya yang masih kosong. Ia menempatkan tasnya di pengait tas samping meja. Di tempat duduk yang berada di paling pojok belakang dekat jendela ini ia dapat melihat keseluruhan ruang kelas. Melalui jendela kelasnya ia dapat melihat seorang tukang kebun dengan lihainya sedang memangkas tanaman Boxwood agar terlihat lebih rapi. Burung pipit yang berada di sekitarnya pun tidak merasa terganggu dengan kehadiran orang itu. Dan juga, suasana kelas tidak pernah jauh berbeda dari tingkatan sekolah manapun. Selalu ramai dengan canda tawa antar teman dan juga sedikit drama yang mereka lakukan.
ini sangat melelahkan. Batin Al. ia lalu mengambil buku dari tasnya kemudian menaruhnya di atas meja sebagai alas untuk tidur.
“Hei, Claude. Perkenalkan, namaku Dio Prakoso. Bisa kau panggil Dio dan ini adalah pacarku.”
“Claude?”
“Ya, Claude. namamu kan kurni-AWAN. Kalau ditranslate ke Bahasa Inggris kan jadinya Cloud. Atau kau mau aku panggil ‘Oblak’ yang bermakna awan juga tapi dalam Bahasa Sloven.”
“Tidak tidak, lebih baik kau memanggilku Claude saja. Tapi baru kali ini aku memiliki julukan seperti orang barat” ucap Claude.
“Apa kalian bertiga sudah saling mengenal sejak lama. Kalian terlihat sangat akrab.” Tanya Claude kepada Dio dan Sheena.
“Akrab? Dengan dua orang bodoh ini. Kau bercanda?” Tolak Sheena dengan segera dan menunjuk tangannya kepada Dio dan Al.
“Hei hei, kau jahat sekali Sheena. Setidaknya aku lebih tampan dari Al bukan.” Jawab Dio sembari menaikkan alisnya dan memainkan rambutnya dengan jari tangan.
“Uhhh, menjijikan…. Tunggu sebentar, apa kau tadi menganggapku sebagai pacarmu hah!?” Sheena mengancam Dio dengan mengepalkan tangannya tepat di depan wajahnya. Tetapi bukannya berlagak sok kuat seperti sebelum-sebelumnya, ia malah menjadikan Claude sebagai tameng pertahanannya.
“Tu… Tunggu dulu Sheena. Jangan pukul aku lagi” ucap Claude.
“Oi” ujar Al yang terbangun dari tidurnya karena terganggu dengan kebisingan mereka bertiga yang ngobrol di depan mejanya. Ah tidak, lebih tepatnya mereka menata kursinya mengelilingi meja Al dengan sengaja agar ia terganggu.
“Oh tuan muda, selamat datang kembali ke real world” ucap Dio dengan posisi membungkuk seperti sedang berhadapan dengan raja.
“Kau ini…”
Tiba-tiba pintu kelas terbuka, seorang guru laki-laki yang belum kami kenal itu memasuki kelas tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan seketika itu juga ruangan kelas menjadi tenang. Memang saat ini tenang tapi pasti beberapa hari lagi saat mereka sudah mengenal semua guru yang akan mengajar disini sifat-sifat darah muda meraka akan bangkit, yaitu sering tidak mendengarkan apa yang guru bicarakan dan malah lebih memilih ngobrol dengan temannya atau bahkan tidur di kelas.  
Ia mengambil kapur dan menulis namanya di papan.
“Selamat pagi semua. Perkenalkan nama saya Demas Ananda yang akan menjadi penanggung jawab kelas ini atau bisa kalian bilang wali kelas selama setahun kedepan”
 “Baiklah, gimana rasanya jadi anak SMA, pasti beda kan dengan saat masih SMP?” tanya pak Demas menghilangkan kecanggungan yang ada.
“Wah gila pak, balonnya banyak. Hahaha” ucap salah satu murid yang berada di bagian tengah.
 “Nah ini, ini nih calon orang yang menuh-menuhin ruang BK” jawab pak Demas.
“Jadi, hari ini hanyalah perkenalan dan pemilihan anggota jajaran perwakilan, pengurus dan penaggung jawab kelas ini. Atau kalian mau mulai pelajaran?” lanjutnya.
“Gak pak, jangan”
“Jangan pak”
“Yaah, jangan gitu lah pak. Kita kan pren”
“Yaudah kalau tidak mau, kalau begitu ada yang mau mencalonkan diri sebagai ketua kelas?”
Sheena berdiri dan mengangkat tangan kanannya.
“Saya pak, saya mencalonkan diri sebagai ketua kelas untuk kelas ini melalui voting”
Dio yang sedang duduk santai sembari melirik gadis-gadis yang ada di kelasnya merasa tersaingi dengan pergerakan Sheena untuk menjadi ketua kelas.
Ini tidak bisa dibiarkan. Batinnya. Ia pun ikut berdiri dan mencalonkan diri sebagai ketua kelas juga.
“Pak, saya juga mencalonkan diri sebagai ketua kelas” ucapnya. Seketika itu juga Sheena menoleh kearah Dio dan memberikan tatapan tajamnya. Tetapi tatapan itu tidak akan berguna karena yang sedang dia hadapi sekarang ini adalah Dio. Dio membalas tatapan tajam Sheena dengan senyuman bodohnya dan mata yang memutih tanda ia sedang meremehkan lawannya. Pak Demas bertanya lagi apakah ada yang ingin mencalonkan diri menjadi ketua kelas, namun semua hanya diam karena mereka tidak mau merepotkan dirinya menjadi babu sekolah.
“Baiklah, calon ketua kelas harap maju ke depan. Perkenalkan nama kalian setelah itu kita mulai votingnya.” Kata pak Demas.
Setelah keduanya memperkenalkan diri pemilihan pun dimulai. Seluruh murid dibagikan sepotong kertas untuk menulis calon ketua kelas yang mereka pilih lalu memasukkan kertas itu ke dalam kotak yang sudah dipersiapkan secara dadakan sebelumnya. Persaingan pun terjadi sangat sengit, dengan Sheena yang berpenampilan mencolok dan sifatnya yang agresif kepada orang lain dan Dio yang sudah dikenal sebelumnya karena kejadian di acara penyambutan juga sikapnya yang terbuka ke siapa saja saat pertama kali berkenalan.
“Baiklah, ini adalah kertas suara terakhir yang ada di dalam kotak pemilihan. Sekaligus menjadi penentu kemenangan dari kedua calon karena skor saat ini adalah 16-16. Mari kita buka…” ujar pak Demas yang membuat suasana kelas menjadi tegang.
“Dan suara terakhir juga terbanyak sekaligus yang akan menjadi ketua kelas adalah…… DIO PRAKOSO!!!” ucap pak Demas.
“Wooooohooooo, look at that babe. You can’t beat me… Sekarang kau akan selalu ada disampingku sebagai wakil ketua kelas.”
“Tidak!” tolak Sheena kepada Dio.”
“Pak Demas..” ucap Dio memelas.
“Sheena, kamu tidak boleh seperti itu. bukankah perjanjiannya tadi kalau yang kalah akan menjadi wakil ketua?”
“Iya pak.” Jawab Sheena mengalah.
“HeHHEheEHhe.” Tawa jahat Dio “Mohon kerjasamanya ya Sheena” Dio mencoba mengulurkan tanggannya kepada Sheena.
“Iya” jawab Sheena berlalu tanpa membalas uluran tangan Dio dan berjalan menuju tempat duduknya kembali.
“Aw. Itu menyakitkan….” Ucap Dio sembari menaruh telapak tangannya yang ditolak ke dadanya “AHHHHH SHEEENAAA-KU” teriaknya secara mendadak.
“Apa yang kau lakukan bodoh!” gumam Al dari tempat duduknya.
“BERISIK!!!” jawab Sheena marah yang tidak lama kemudian sebuah tempat pensil melayang ke kepala Dio.
          Kejadian itu membuat Dio dan Sheena menjadi dikenal di kelasnya. Sedangkan Al masih berupa manusia biasa yang menjadi sahabat Dio.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar