Krssk krskkk . .. . .
Kepada
seluruh siswa baru kelas X harap untuk segera masuk ke kelas dan mencari
kelasnya masing-masing.
Suara
speaker itu menyadarkan seluruh siswa yang masih berhamburan di sekitar gedung
sekolah agar segera mencari kelasnya masing-masing.. Ada yang terburu-buru tapi
ada juga yang malah menjelajah kuliner di kantin sekolah seperti halnya Al.
“Tahu
tempe bakwan kerupuk, oke semuanya sudah lengkap. Baksonya juga sudah datang.”
Ujarnya yang tampak antusias dengan jajanannya. Ia mengambil peralatan makan
dan meracik makanannya dengan mencampur saus, sambal, dan juga kecap ke dalam
semangkuk bakso.
“Ehmm
hm, untuk nilai makanan ini aku beri poin 10 dari 10,01. Cukup baik untuk
sebuah jajanan kantin di sekolah.”
“Eeeh,
kenapa tidak nilai sempurna? Padahal menurutku makanan ini sangat lezat!” Tanya
seorang gadis sembari memberikan senyumnya kepada Al yang tidak sengaja
mendengarnya bergumam. Ia duduk di kursi depannya sehingga wajah mereka saling
berhadapan. Ada seseorang yang mau untuk memulai pembicaraan dengan Al adalah
suatu hal yang langka. Dengan tampang seperti itu, tidak jarang dari mereka
yang lebih memilih menghindar darinya.
Al
hanya melihat gadis itu sekilas lalu membuang pandangannya menuju makanannya
kembali.
“Cuek
banget sih, padahal tadi kamu keliatan keren di atas panggung” goda gadis itu
yang membuat Al hampir saja tersedak dengan makanannya.
“Yaudah
aku tinggal ya. Oh iya, jangan terlalu lama menghabiskan makananmu. Nanti kamu
bakal ketinggalan kelas” sambungnya sembari melemparkan senyum manisnya dan
melambaikan tangannya.
Siapa dia? kami bahkan belum pernah
bertemu sebelumnya. Aku terus memandang punggung gadis itu yang sedang berjalan
menjauh dariku. Sebelum aku sadar bahwa ini sudah waktunya untuk masuk ke kelas
tetapi aku malah bersantai di kantin.
“Kelas?
Waduh gawat, aku bahkan belum sempat untuk mencari kelasku…” aku bergegas
menuju gedung tempat pembelajaran. Tetapi sebelum itu aku melepas sepatuku dan
menaruhnya ke dalam loker lalu memakai sepatu khusus yang digunakan saat berada
di dalam gedung sekolah. Aku berlari menuju ke lantai 3 gedung ini karena dari
informasi yang kudengar saat upacara sambutan tadi untuk kelas seluruh murid
baru ada di lantai 3. Aku mengecek satu persatu pintu yang ditempeli sebuah
kertas berisikan daftar nama penghuni kelas ini untuk satu tahun ke depan.
Karena namaku berawalan dari A maka akan sangat mudah untuk menemukannya tapi
kenapa dari tadi belum juga muncul namaku, padahal sudah sebanyak 6 ruangan
yang aku cek. Aku berjalan kembali menyusuri lorong kelas yang bergaya ala
sekolahan Jepang dengan lantai kayu dan lorong kelas yang tertutup (memiliki
ruangan) dan berjendela tidak seperti kebanyakan sekolah di Indonesia, aku merasa
ada ruangan yang terlewat saat aku berlari tadi. Di pintu kelas yang terpampang
papan bertuliskan 1-2 itu aku mengecek kembali daftar nama. Mungkin jika aku
membaca dari urutan terakhir suatu keajaiban akan terjadi.
“Baiklah,
mulai dari Riana Tai? Hahaha, yang benar saja. Mungkin masudnya adalah Tia.
Lalu ada Sheena, Kurniawan, Dio. Dio? Jadi dia ada di kelas ini. Ali Farel. Ah
ini dia, tapi sebentar, aku satu kelas dengan sialan itu? Oh tuhan…” Aku
menarik tuas pintu yang berwarna putih itu dan melihat keadaan kelas yang akan
aku tempati tahun ini. Ketika pintu terbuka, seluruh kebisingan yang ada di
dalam ruangan seperti menghempas ke wajahku. Ada yang sedang mengobrol tentang
sekolah mereka dahulu, ada yang mengobrol tentang model majalah terkini, ada
yang mengobrol tentang guru paling hot dan seksi di sekolah ini. Walaupun belum
ada seharian penuh mereka berkenalan, mereka sudah mengelompokkan diri mereka
sesuai dengan kasta pergaulan.
Ada
kelompok berandalan yang sangat berisik ditengahi oleh orang berbadan besar.
Ada juga kelompok yang mirip seperti model karena pakaian lalu dandanan mereka
sangat kekinian ditunjang dengan wajah mereka yang cocok memakai item tersebut.
Ada kelompok anak culun yang saling berbagi nasib melas mereka. Dan ada juga
kelompok yang biasa saja, yang tidak menarik,
bahkan tidak menarik sedikitpun, menarik pun tidak, tidak menarik sama sekali,
ah sudahlah….
“HUaaaa. Kelaaaas, dimana kelaskuu….”
Suara itu terdengar menggema di sepanjang lorong kelas. Ia terlihat berlari
menuju arahku yang baru membuka pintu dan belum sempat memasuki kelas.
“Ke.. kelass….” Ia berhenti tepat di
depanku dengah napas terengah-engah ia mencoba mengatakan sesuatu.
“Hanya ini yang belum aku periksa…
semoga.. semoga….. coba kulihat” Tangannya menunjuk ke daftar nama yang
ditempel di pintu kelas.
“K.. dimana huruf K… Kur… Kurni…
Kurniawan Wicaksono…..aaaah akhirnya ketemu juga” Ekspresinya seperti orang
girang, yah memang girang sih untung saja bukan tante girang.
“Hei kau, bisa minggir dari situ. Aku
mau lewat” ucap seorang wanita di belakangku. Oh tidak, aku kenal dengan suara
ini. Aku mencoba menoleh dengan pelan dan benar saja ia adalah gadis yang tadi
ada di upacara pembukaan. Gawat gawat gawat, aku harus bersikap cool saat ini.
“Hm?, ada apa” jawabku sembari memakan
bakso yang aku masih aku bawa dari kantin tadi, sayang sekali kan kalau makanan
kita tinggal hanya karena terburu-buru. Lagipula aku sudah membayar makanan
ini, nanti tukang baksonya untung dong kalau makanannya tidak habis ia bisa
memasukkan kembali baksonya kembali ke dalam panci sebagai makanan daur ulang
dan itu bisa menghemat pengeluaran belanjanya.
“Bukankah kau yang tadi..” Raut
mukanya berubah menjadi marah.
“Yang tadi?”
“Jangan pura-pura lupa denganku, kau
yang memberiku julukan gadis rambutan itu bukan!” Kedua tangannya memegang
kerah bajuku.
Tapi kau memang mirip rambutan.
Kau kira aku akan menjawab seperti itu?!
tentu saja tidak. “Tidak, aku tidak akan berbagi bakso ini denganmu”
“Kau mau merubah topik pembicaraan
hah!”
“Maaf.” Jawabku sembari melanjutkan
makanku.
“Ada apa dengan maaf-mu itu, KAU TIDAK
BERNIAT MEMINTA MAAF YA!” sentaknya.
“Pokoknya aku tidak akan berbagi bakso
ini dengamu!” tanganku mencoba menyembunyikan semangkuk bakso dari hadapan
Sheena.
“Huh, lupakan saja. Kau memang
menyebalkan” Ia pun melepaskan genggamannya.
“Hei hei, kenapa kalian seru sendiri
dan tidak mengajakku. Kau jahat sekali Tuan Putri Sheena Veronica” sela Dio di
tengah konflikku dengan gadis itu.
“Jangan seenaknya sendiri merangkulku
dasar bodoh…” Bhug, satu pukulan tepat mendarat di perut Dio. Tetapi
bukannya kesakitan ia malah seperti masokis yang bahagia ketika disiksa.
“Eeeh, jadi namamu Sheena.” Ucapku
lirih
“Lalu kenapa!” Ia kembali menatap
kearahku dengan mata melotot.
Aku membuang pandanganku lalu
menyeruput sesendok kuah bakso yang masih tersisa “Mmm, sudah kuduga. Ada yang
kurang dari makanan ini”
“Jangan coba mengabaikanku kau!” Bhugg,
ia melayangkan pukulan kearah perutku juga. Ah sial, hampir saja semua
makanan yang susah payah aku kunyah dan berhasil masuk ke dalam perut keluar
lagi. Dan juga dia ini wanita bukan sih, pukulannya cepat sekali sampai-sampai
aku tidak bisa menghindar. Dasar gorilla.
“Pffftt, bertahanlah Al. Kau seperti
orang bodoh yang menahan BAB saat sedang terjebak macet di jalanan” ujar Dio
bahagia dengan keadaanku saat ini. Tetapi setelah itu lelaki yang tadi ikut
tertawa dengan tingkah kami bertiga.
“Kalian akrab sekali ya.”
“Mana ada!” Jawabku dan Sheena dengan
serentak.
“Tuhkan, apa aku bilang. Kalian memang
akrab”
“Aku bilang tidak!” jawab kami
serentak lagi.
“Hei, jangan meniru apa yang aku
bicarakan” ujarku.
“Apa! Aku menirumu? Justru kau yang
meniruku” ucap Sheena dengan kesal dan mengarahkan jari telunjuknya ke jidatku.
“Perkenalkan, namaku Kurniawan.” Ia
menjulurkan tangannya kepadaku dan kami bersalaman. Tetapi tangan orang itu
sangat basah karena keringatnya. Aku melihat ke telapak tanganku sejenak. Oh
sial, ini menjijikan, lalu…
“Menjijikan, terima ini” aku mengelap
bekas keringatnya yang menempel di tanganku ke wajah Sheena dan Dio lalu aku berlari
ke bangku tempat tas Dio berada.
“AL, awas kau… Kau juga…” ujar Sheena
marah dan mengarahkan pukulannya ke perut Kurniawan juga. Dan akhirnya lengkap
sudah kami bertiga menerima pukulan dari wanita bertenaga gorilla tersebut.
“Hei
Al, setidaknya jangan kau nodai wajah cantik Sheena.” ucap Dio. “Aah, tapi ini gak mengurangi kecantikanmu
kok Tuan Putri” Sambungnya
sembari
menggoda Sheena.
“Ahahah,
seharusnya aku mengelap tanganku dulu ya. Maaf maaf” jawab Kurniawan dengan
wajah bodohnya.
“Kau
Telat” ucap Dio dan Shena bersamaan.
---***---
Al mengambil tas Dio lalu memindahkan
ke bangku di sebelahnya yang masih kosong. Ia menempatkan tasnya di pengait tas
samping meja. Di tempat duduk yang berada di paling pojok belakang dekat
jendela ini ia dapat melihat keseluruhan ruang kelas. Melalui jendela kelasnya
ia dapat melihat seorang tukang kebun dengan lihainya sedang memangkas tanaman Boxwood
agar terlihat lebih rapi. Burung pipit yang berada di sekitarnya pun tidak
merasa terganggu dengan kehadiran orang itu. Dan juga, suasana kelas tidak
pernah jauh berbeda dari tingkatan sekolah manapun. Selalu ramai dengan canda
tawa antar teman dan juga sedikit drama yang mereka lakukan.
ini
sangat melelahkan. Batin Al. ia lalu
mengambil buku dari tasnya kemudian menaruhnya di atas meja sebagai alas untuk tidur.
“Hei,
Claude. Perkenalkan, namaku Dio Prakoso. Bisa kau panggil Dio dan ini adalah pacarku.”
“Claude?”
“Ya,
Claude. namamu kan kurni-AWAN. Kalau ditranslate ke Bahasa Inggris kan jadinya
Cloud. Atau kau mau aku panggil ‘Oblak’ yang bermakna awan juga tapi dalam
Bahasa Sloven.”
“Tidak
tidak, lebih baik kau memanggilku Claude saja. Tapi baru kali ini aku memiliki
julukan seperti orang barat” ucap Claude.
“Apa
kalian bertiga sudah saling mengenal sejak lama. Kalian terlihat sangat akrab.”
Tanya Claude kepada Dio dan Sheena.
“Akrab?
Dengan dua orang bodoh ini. Kau bercanda?” Tolak Sheena dengan segera dan
menunjuk tangannya kepada Dio dan Al.
“Hei
hei, kau jahat sekali Sheena. Setidaknya aku lebih tampan dari Al bukan.” Jawab
Dio sembari menaikkan alisnya dan memainkan rambutnya dengan jari tangan.
“Uhhh,
menjijikan…. Tunggu sebentar, apa kau tadi menganggapku sebagai pacarmu hah!?”
Sheena mengancam Dio dengan mengepalkan tangannya tepat di depan wajahnya.
Tetapi bukannya berlagak sok kuat seperti sebelum-sebelumnya, ia malah
menjadikan Claude sebagai tameng pertahanannya.
“Tu…
Tunggu dulu Sheena. Jangan pukul aku lagi” ucap Claude.
“Oi”
ujar Al yang terbangun dari tidurnya karena terganggu dengan kebisingan mereka
bertiga yang ngobrol di depan mejanya. Ah tidak, lebih tepatnya mereka menata
kursinya mengelilingi meja Al dengan sengaja agar ia terganggu.
“Oh
tuan muda, selamat datang kembali ke real world” ucap Dio dengan posisi
membungkuk seperti sedang berhadapan dengan raja.
“Kau
ini…”
Tiba-tiba
pintu kelas terbuka, seorang guru laki-laki yang belum kami kenal itu memasuki
kelas tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan seketika itu juga ruangan kelas
menjadi tenang. Memang saat ini tenang tapi pasti beberapa hari lagi saat
mereka sudah mengenal semua guru yang akan mengajar disini sifat-sifat darah
muda meraka akan bangkit, yaitu sering tidak mendengarkan apa yang guru
bicarakan dan malah lebih memilih ngobrol dengan temannya atau bahkan tidur di
kelas.
Ia
mengambil kapur dan menulis namanya di papan.
“Selamat
pagi semua. Perkenalkan nama saya Demas Ananda yang akan menjadi penanggung
jawab kelas ini atau bisa kalian bilang wali kelas selama setahun kedepan”
“Baiklah, gimana rasanya jadi anak SMA, pasti
beda kan dengan saat masih SMP?” tanya pak Demas menghilangkan kecanggungan
yang ada.
“Wah
gila pak, balonnya banyak. Hahaha” ucap salah satu murid yang berada di bagian
tengah.
“Nah ini, ini nih calon orang yang
menuh-menuhin ruang BK” jawab pak Demas.
“Jadi,
hari ini hanyalah perkenalan dan pemilihan anggota jajaran perwakilan, pengurus
dan penaggung jawab kelas ini. Atau kalian mau mulai pelajaran?” lanjutnya.
“Gak
pak, jangan”
“Jangan
pak”
“Yaah,
jangan gitu lah pak. Kita kan pren”
“Yaudah
kalau tidak mau, kalau begitu ada yang mau mencalonkan diri sebagai ketua kelas?”
Sheena
berdiri dan mengangkat tangan kanannya.
“Saya
pak, saya mencalonkan diri sebagai ketua kelas untuk kelas ini melalui voting”
Dio
yang sedang duduk santai sembari melirik gadis-gadis yang ada di kelasnya
merasa tersaingi dengan pergerakan Sheena untuk menjadi ketua kelas.
Ini
tidak bisa dibiarkan. Batinnya. Ia pun ikut
berdiri dan mencalonkan diri sebagai ketua kelas juga.
“Pak,
saya juga mencalonkan diri sebagai ketua kelas” ucapnya. Seketika itu juga
Sheena menoleh kearah Dio dan memberikan tatapan tajamnya. Tetapi tatapan itu
tidak akan berguna karena yang sedang dia hadapi sekarang ini adalah Dio. Dio
membalas tatapan tajam Sheena dengan senyuman bodohnya dan mata yang memutih
tanda ia sedang meremehkan lawannya. Pak Demas bertanya lagi apakah ada yang
ingin mencalonkan diri menjadi ketua kelas, namun semua hanya diam karena
mereka tidak mau merepotkan dirinya menjadi babu sekolah.
“Baiklah,
calon ketua kelas harap maju ke depan. Perkenalkan nama kalian setelah itu kita
mulai votingnya.” Kata pak Demas.
Setelah
keduanya memperkenalkan diri pemilihan pun dimulai. Seluruh murid dibagikan
sepotong kertas untuk menulis calon ketua kelas yang mereka pilih lalu
memasukkan kertas itu ke dalam kotak yang sudah dipersiapkan secara dadakan
sebelumnya. Persaingan pun terjadi sangat sengit, dengan Sheena yang
berpenampilan mencolok dan sifatnya yang agresif kepada orang lain dan Dio yang
sudah dikenal sebelumnya karena kejadian di acara penyambutan juga sikapnya
yang terbuka ke siapa saja saat pertama kali berkenalan.
“Baiklah,
ini adalah kertas suara terakhir yang ada di dalam kotak pemilihan. Sekaligus menjadi
penentu kemenangan dari kedua calon karena skor saat ini adalah 16-16. Mari
kita buka…” ujar pak Demas yang membuat suasana kelas menjadi tegang.
“Dan
suara terakhir juga terbanyak sekaligus yang akan menjadi ketua kelas adalah……
DIO PRAKOSO!!!” ucap pak Demas.
“Wooooohooooo,
look at that babe. You can’t beat me… Sekarang kau akan selalu ada disampingku
sebagai wakil ketua kelas.”
“Tidak!”
tolak Sheena kepada Dio.”
“Pak
Demas..” ucap Dio memelas.
“Sheena,
kamu tidak boleh seperti itu. bukankah perjanjiannya tadi kalau yang kalah akan
menjadi wakil ketua?”
“Iya
pak.” Jawab Sheena mengalah.
“HeHHEheEHhe.”
Tawa jahat Dio “Mohon kerjasamanya ya Sheena” Dio mencoba mengulurkan
tanggannya kepada Sheena.
“Iya”
jawab Sheena berlalu tanpa membalas uluran tangan Dio dan berjalan menuju
tempat duduknya kembali.
“Aw.
Itu menyakitkan….” Ucap Dio sembari menaruh telapak tangannya yang ditolak ke
dadanya “AHHHHH SHEEENAAA-KU” teriaknya secara mendadak.
“Apa
yang kau lakukan bodoh!” gumam Al dari tempat duduknya.
“BERISIK!!!”
jawab Sheena marah yang tidak lama kemudian sebuah tempat pensil melayang ke
kepala Dio.
Kejadian itu membuat Dio dan Sheena
menjadi dikenal di kelasnya. Sedangkan Al masih berupa manusia biasa yang
menjadi sahabat Dio.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar