Hari ini matahari terasa sangat terik, namun untungnya alam masih berpihak kepada kami dengan mengirimkan angin sepoi-sepoi yang cukup untuk meredam hawa panas yang menyerang. Di lapangan sekolah yang luas ini banyak murid yang berkumpul untuk memulai pelajaran olahraga. Pelajaran yang paling disukai oleh mayoritas murid karena ini adalah satu-satunya pelajaran yang tidak membutuhkan kemampuan berpikir sekeras yang lain.
Ada yang menganggap ini adalah ajang pamer kekuatan fisik mereka, ada juga yang menganggap saat-saat seperti ini adalah kesempatan mereka bermalas-malasan atau lebih banyak bermain dengan teman-temannya dibandingkan mengikuti arahan pelatih olahraga mereka. Yah, walaupun memang benar karena saat pelajaran olahraga mereka disuruh mempraktikkan satu persatu atau berpasangan dan yang belum praktik atau sudah melakukannya hanya disuruh duduk menunggu. Tapi itu juga tergantung kebijakan setiap guru, karena tidak semua orang memiliki karakter dan sifat yang sama. Ada yang memberi kebebasan namun ada juga yang mengekang.
Di lapangan terdapat 2 baris kelompok dari kelas yang berbeda. Karena salah satu pengajar dari kelas lain tidak masuk, kelas 1-2 dan 1-3 akhirnya digabung. Dan untuk materi kegitan hari ini adalah senam, lompat jauh, lempar lembing, dan balap lari jarak 100 meter.
"Bersedia..." teriak salah satu siswa yang menjadi petugas garis start. Seluruh siswa yang sedang mengikuti balap lari tersebut mengambil posisi dan memfokuskan seluruh pendengarannya kepada suara petugas tersebut.
"Siap... MULAI!!!" balapan pun dimulai, terjadi pesaingan sengit antara seorang yang berbadan tinggi dengan langkahnya yang panjang dengan seorang berbadan sedang namun memiliki tubuh atletis dan langkah kakinya terlihat sangat cepat. Dengan saling beradu kecepatan mengabaikan peserta lari yang lain. Mereka mempercepat ayunan tangan agar langkah kaki mereka juga semakin cepat sampai akhirnya garis finish pun tercapai. Dan hasil pun diumunkan karena kemenangan antar keduanya sangatlah tipis. Dengan kepercayaan diri yang besar, mereka saling beradu mulut untuk membuktikan bahwa salah satu dari merekalah yang lebih dahulu sampai di garis finish. Namun setelah diumunkan siapa yang lebih cepat, pria yang memiliki postur tubuh tinggi itu kembali dengan raut muka kesal.
Aku dan Claude duduk di atas tanah sembari menyaksikan pertandingan setiap orang.
"Hahaha. Dia pasti kalah karena ia menampakkan wajah seperti itu" ucap Claude.
"Setidaknya ia lebih baik darimu.." ucapku
"Apa kau bilang? Baiklah kalau begitu, karena setelah ini adalah giliranku. Mari kita bertaruh siapa yang tercepat kali ini. Aku akan membuktikannya jika aku bisa memenangkannya." ujar Claude sembari menaruh lengannya di pundakku. Ia juga menampilkan senyuman sombongnya seakan-akan ia akan memenangkan pertandingan ini dengan mudah. Aku hanya diam dan tidak menjawab perkataannya.
Aku mengalihkan pandanganku dari Claude dan mencari keberadaan Dio. Ternyata ia berada di baris perempuan kelas 1-3 dan sedang menggoda setiap gadis yang ada disana.
"Hei sayang, maukah kau berkencan denganku malam ini?" ujar Dio kepada salah satu gadis yang memiliki rambut hitam panjang.
Ah si bodoh itu. Awas saja jika ia memiliki masalah dengan wanita tetapi ikut menyeret namaku. Dan tiba-tiba aku terpikir sebuah ide. Aku kembali menatap Claude dan merangkulnya.
"Claude, apa kau ingin bertaruh berapa detik Dio akan dihajar Sheena?."
"Emmm, 1 menit?."
"Salah!, jawabannya 10 detik"
Aku melepaskan rangkulanku dari pundak Claude dan berbalik memanggil Sheena.
"Sheena!, kau mau ikut berpesta?" ucapku agak lantang kepada Sheena dan tanganku menunjuk ke tempat Dio berada.
"Pesta?, apa maksud..." Ia mengikuti kemana arah tanganku menunjuk dan setelah itu sikapnya mendadak berubah menjadi mode dark.
"Bocah sialan itu..." ucapnya. Ia menghampiri Dio dengan tangan mengepal dibarengi dengan wajah seramnya.
"Hei..." ucap Sheena kepada Dio dengan nada lirih namun menakutkan. Mendengar suara Sheena yang tiba-tiba berada dibelakangnya membuat Dio merinding. Ia memutar badannya kebelakang secara perlahan, dan... Bhugg, satu pukulan mendarat di kepala Dio. Sheena pun membawa kembali Dio ke kelompok kelas kami. Dan seperti biasa, Dio bukannya menyesal malah lebih terlihat senang saat diperlakukan seperti itu oleh Sheena.
"Benar kan, 10 detik" ucapku kepada Claude. Claude pun membalasnya dengan tawa.
"Ada apa dengan kepalamu?" tanyaku saat Dio menghampiri kami berdua.
"Ah tidak, ini hanya sebuah tanda cinta." jawab Dio slengean padahal Sheena masih berada di sampingnya. Sheena terlihat seperti iblis dengan aura gelapnya yang mematikan membuatku membuang pandangan darinya. Untungnya tak lama setelah itu, Claude dan Dio dipanggil untuk giliran balap lari.
"Dio, Kurniawan, Randy, Sinar, Pamungkas. Bersiap di lintasan lari dan ambil posisi masing-masing"
"Lihatlah, aku akan memecahkan rekor lariku sebelumnya yaitu 12,98 detik" ucap Claude.
"Hah, sombong sekali. Aku akan mengalahkanmu dengan mudah disini" sambung Dio terhadap pernyataan Claude. Apa Dio barusan menantang Claude barusan? yang benar saja. Aku tahu akhir yang akan dialami Dio nantinya. Dia itu sebenarnya tidak memiliki bakat untuk berlari dengan cepat.
Mulai!!!
Claude berlari sangat cepat meninggalkan seluruh peserta dibelakangnya. Termasuk Dio yang berlari seperti kura-kura. Kalian pernah lihat kura-kura berlari? Jika pernah, hampir seperti itu Dio sekarang ini. Cara berlarinya sangat aneh yang membuat membuat hampir semua penonton menertawakannya. Termasuk aku dan Sheena yang saat ini sedang menontonnya. Belum berjalan setengahnya pun Dio sudah ngos-ngosan. Dan tak lama kemudian Claude telah sampai terlebih dahulu di garis finish.
"Kurniawan, 13 detik"
"Sial, malah turun 0,02 detik" ucap Claude. Sementara itu Dio yang baru saja tiba di garis finish langsung terkapar.
"Dio, 38 detik"
"Kau curang Claude" ujar Dio.
"Kau saja yang berlari terlalu lambat, lagipula apa-apaan dengan gaya berlarimu tadi"
"Itu yang dinamakan easy record. Agar orang mudah mengingat siapa aku"
Mereka berjalan kembali ke tempat kami berdua. Pelatih olahraga pun kembali menyebutkan nama selanjutnya untuk giliran berlari...
"...... dan, Ali Farel. Ambil posisi masing-masing"
Sepertinya ini giliranku sekarang. Aku bangkit dari duduk dan menuju lintasan balap lalu mengambil posisi di paling ujung. Di sebelahku terdapat seorang yang berasal dari geng berandalan, ia melihatku dengan tatapan tidak suka.
"Yo, namaku Meca. Aku pasti akan mengalahkanmu" ujarnya.
Aku tidak peduli. Jangan sok kenal deh. batinku membalas perkataannya.
Setelah tanda mulai, semua orang berlari dengan sekuat tenaga untuk menjadi posisi pertama termasuk si-Meca tadi. Namun itu tidak berlaku untukku, aku hanya berjalan santai dan melihat kumpulan orang bodoh itu berlari saling berebut sesuatu yang tidak nyata. Seluruh murid yang berada di pinggir lintasan pun heran dengan apa yang aku lakukan.
"Ali, larilah..." teriak salah satu orang yang ada di kerumunan. Lagipula aku juga tidak tertarik dengan hal semacam ini. Berlari itu sangat melelahkan, dan aku tidak suka membuang tenaga . Dan juga sebisa mungkin aku hanya menggunakan tenagaku dalam sehari sebanyak 7 persen saja. Aku menyelesaikannya dengan catatan waktu 100 detik yang berarti setiap meternya aku berjalan dengan kecepatan 1 detik.
"Sudah kuduga kau akan seperti itu..." ujar Dio kepadaku yang baru saja kembali.
"Sangat presisi bukan?!" jawabku.
Dan selanjutnya adalah giliran perempuan, nama Sheena dipanggil pertama.
"Sheena, kalahkan mereka semua." ucap Claude.
"Memangnya dia bisa berlari dengan cepat?" tanya Dio kepada Claude.
"Entahlah, aku hanya basa-basi agar moodnya berubah" Namun ucapan Claude barusan terdengar oleh Sheena.
"Kau meremehkanku Claude?. Meskipun begini, aku bisa berlari lebih cepat darimu" ucap Sheena dengan bangganya.
"Lebih cepat dariku? Bagaimana bisa. Dengar! alasan wanita tidak bisa berlari dengan cepat adalah karena ini..." Claude menunjuk ke buah dada Sheena yang cukup besar. Menurutnya Sheena tidak akan bisa berlari dengan cepat karena terhambat bendanya yang bergoyang saat berlari.
"Berisik ih." Sheena berjalan menuju ke lintasan.
"Berjuanglah sayang" teriak Dio saat Sheena sudah berjarak agak jauh darinya. Sepertinya ia takut dipukul lagi. Dan balap lari pun dimulai, Sheena melesat terlebih dulu saat masih berada di garis start. Refleknya akan suara petugas hanya berkisar seper sekian detik jadi ia lebih diuntungkan pada posisi awal. Langkah kakinya tidak terlalu jauh namun cepat dan halus. Sheena mampu mengatasi kelemahannya sebagai wanita dengan baik saat sedang berlari. Ia meninggalkan seluruh peserta jauh di belakang dan tidak butuh waktu lama untuknya menyelesaikan balapan. Ia berada di posisi pertama dengan skor waktu 11,57 detik.
"11,57 detik? yang benar saja. Itu bahkan mengalahkan beberapa rekor dunia. Mengerikan, ternyata masih ada monster tersembunyi di dunia ini..." ucap Claude kagum. Sheena kembali ke tempat kami berada.
"Bagaimana? Sudah kubilang bukan kalau aku akan menyelesaikan ini dengan mudah" ujar Sheena dengan senyum lebar di mulutnya.
"Memangnya kapan kau bilang akan menyelesaikannya dengan mudah. Seingatku kau hanya bilang 'BERISIK IH'. . ,gitu." ucapku kepada Sheena
"Yang penting aku memenangkannya." balas Sheena.
"Hahaha. Itulah gadisku" ujar Dio sembari menepuk bahu Sheena.
"Gadismu kau bilang?" Sheena langsung mengancam Dio dengan tangannya yang mengepal.
"Tidak... aku bilang selamat" Ia melepas tangannya dari bahu Sheena dan menggaruk kepalanya sendiri.
"Aku masih tidak percaya jika kau benar-benar seorang gadis. DIOO, coba cek isi di dalam celana Sheena" ucap Claude.
"Kau gila ya!" sambungku sembari menyikut Claude karena ide brilliantnya.
"Yosh, dapat!" Dio menempatkan kedua telapak tangannya ke dada Sheena. Seketika itu juga wajah Sheena memerah dan karena shock dengan apa yang Dio lakukan, ia mematung sejenak.
"Claude, ini berbahaya. Kita harus segera pergi dari sini" ucapku.
"Kau benar" jawabnya. Kami pun pergi berpencar meninggalkan Dio yang masih bersama Sheena.
Bhugg, plak, klontang, Dhug...
"Dio, aku akan membunuhmu kali ini" Sheena yang tersadar pun segera menghabisi Dio.
"Kalian berdua.... Selamatkan aku... uhuk. " ucap Dio seperti orang sekarat. Namun aku dan Claude tidak memperdulikannya.
"Ah.... Aku mati..." lanjutnya dengan mata setengah melek.
---***---
Tidak lama kemudian bel istirahat pun berdering. Seluruh siswa yang ada di lapangan berhamburan. Ada yang menuju kelas untuk mendinginkan tubuh di bawah AC ada juga yang menuju ke kntin untuk membeli minuman dingin sembari mengobrol dengan teman-temannya.
Al yang ingin bersantai setelah berolahraga ingin mencari tempat yang sepi dan tenang. Ia berniat untuk pergi ke belakang gudang tempat penyimpanan alat olahraga karena yang ia tahu tempat itu jarang disambangi oleh banyak orang. Ia pun berjalan menuju ke tempat itu yang berada di bangunan paling ujung. Namun sesampainya di sana, pintu gudang terbuka lebar. Karena tergoda, ia memasuki gudang itu dan menjelajah di dalamnya.
"Alat apa ini? memangnya sekolah ini sudah berdiri sejak tahun berapa sampai-sampai alat yang sudah berbentuk fosil pun masih disimpan. Tetapi jika diperhatikan gudang ini cukup luas dan pencahayaannya juga bagus. Baiklah sudah cukup basa-basinya, aku harus mendapatkan sesuatu yang bisa digunakan untuk bersantai." Aku kembali menjelajahi seisi gudang lebih dalam lagi. Ada banyak barang aneh yang tersimpan di gudang ini padahal seharusnya tempat ini hanya digunakan untuk penyimpanan alat olahraga tetapi ini malah seperti tempat penyimpanan barang antik. Seperti contohnya adalah jam lonceng yang untuk menyalakannya tidak perlu menggunakan baterai, tetapi hanya dengan mengayunkan pemberat di bawahnya. Setelah berkeliling cukup lama, aku menemukan sesuatu yang sangat mendukung kondisiku saat ini yang ingin bersantai. Yaitu tumpukan matras.
"Surga, ini benar-benar surga..." aku mengambil salah satu tumpukan matras itu dan menjadikannya alas untuk tidur.
"Seharusnya kau memanggilku jika kau ada di gudang ini. Eh, tapi kalau matras bisa ngomong jadinya serem ya. Ya sudahlah, lebih baik aku istirahat sebentar di sini sembari menunggu bel masuk berbunyi daripada berpikir yang aneh-aneh" Aku mengambil posisi tidur dan memejamkan mata. Namun baru beberapa detik perutku keroncongan meminta makan.
"AHHHHHHH. Bisa gak sih kalo laper itu ngomong dari tadi. Udah pw juga tinggal tidurnya doang. Kebiasaan deh ganggu orang lagi rebahan." Aku berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Tetapi...
"Kau bercanda bukan. Hei, ini tidak lucu. KENAPA PINTUNYA TIDAK BISA DIBUKA?!! ADA ORANG DI LUAR? BUKAIN DONG!"
"Tunggu sebentar, Tarik nafas yang dalam. Mungkin aku salah memutar knop pintu."
Klek Klek...
Namun pintu tidak bisa dibuka juga.
"Ha-.. Haha... Hahaha. Terserah!!. Balik ke matras aja lah. Aduhh, tapi perut laper banget." Aku berjalan kembali menuju ke matras. Dan karena sirkulasi udara yang buruk, membuat gudang ini terasa sangat panas. Karena membuka baju saja masih kegerahan. Aku pun ikut melepaskan celana panjangku, dan saat ini pakaian yang tersisa di tubuhku hanyalah celana pendek saja. Dan kembali berbaring di atas matras.
"Kalau begini kan lega. Lagipula siapa sih yang ngunci pintunya. Gatau ada orang di dalem apa. Mana gak ada kantin lagi di dalem gudang. Buk, bakso satuu... lapeeerr... Sama es teh panasnya sekalian."
"Dobrak aja mungkin pintunya, siapa tau mau kebuka." Aku kembali bangkit dari tidurku namun tak disangka di depanku terdapat seorang gadis menatapku dengan wajah suram.
"EHH..." ucap kami berdua bersamaan.
Sial!! Apa yang dia lakukan disini... bukankah pintunya terkunci? Bagaimana dia bisa masuk. Batinku. Kami sempat bertukar pandang beberapa saat sampai gadis itu tersadar kalau aku hanya mengenakan celana pendek saja.
"Ma-maaf, aku" ucapnya dengan gemetar.
"Aku...."
"Waaaaaaa.... Aku tidak melihatnya, aku tidak melihatnya." Sambungnya sembari menutup kedua matanya dan berlari menjauh dari ku. Ia terlihat seperti orang yang baru saja bertemu dengan hantu. Bukankah wajar jika laki-laki hanya berpakaian seperti ini. Tapi kalau bertemu lelaki yang hanya mengenakan celana pendek di gudang termasuk aneh juga ya. Tapi kan wajar... gimana sih.
"Masa depanku.. Aaah, hancur sudah jika dia menceritakan hal ini kepada teman-temannya. Hei ini bukan waktunya untuk memikirkan hal itu, aku harus mengejarnya"
"Anuu, ini hanya salah paham. Aku bisa menjelaskannya... (Gubrak) aduh " ucapku sembari mengejar gadis itu yang baru saja keluar. Tapi aku malah tersandung celanaku sendiri yang aku taruh di lantai.
"Celana tolol, setidaknya biarkan aku mengejarnya terlebih dahulu. Keburu jauh dia larinya...." aku mengambil celanaku dan memakainya lalu kembali mengejar gadis tersebut.
"NOOooooo, hei! tunggu sebentar..." aku panik karena jarakku dengan dia semakin jauh. Aku pun meningkatkan kecepatan berlariku.
"Apa yang kau lakukan, aku akan berpura-pura tidak melihatnya. Dan juga jangan mengejarku dengan keadaan telanjang dada seperti itu." ucap gadis itu saat aku hampir mendapatkannya.
"Aduh, lupa.." aku kembali ke gudang lalu mengambil bajuku dan memakainya.
"Heh, apa yang aku lakukan. Seharusnya tadi dia sudah hampir kudapatkan. Kenapa malah kembali ke gudang dasar bodoh." Namun sayang, saat aku kembali keluar untuk mengejarnya gadis itu sudah tidak terlihat. Ia berlari seperti tikus yang ketakutan ketika berpapasan dengan manusia pada malam hari. Ah sial sial sial, semoga dia tidak menyebarkan hal ini kepada orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar