Sabtu, 01 Februari 2020

Flying Hope - Kesialan olahraga 2

"Baiklah semuanya, karena jam pelajaran hari ini telah usai. Silahkan kembali ke kelas dan rapikan semua peralatan yang kalian pakai. Jangan lupa ditaruh kembali ke gudang ya." Kata seorang guru olahraga kepada murid kelas 1-3 yang baru saja selesai melaksanakan olahraga.
"Oke pak!" Jawab semua murid
"Semua barang harap dimasukkan ke troli. Dan untuk yang bertugas mengembalikannya ke gudang kali ini adalah Sili Marda." Ujar guru tersebut.
"Saya sendiri pak? Tak boleh bawa teman kah?."
"Tidak perlu. Lagipula barangnya tidak terlalu berat kok. Gudang juga deket kan dari sini."
"Yaudah deh." ucap Sili Marda.
"Ini kunci gudangnya. Oh iya, jangan ditaruh sembarangan yah pas di gudang. Taruh sesuai dengan tempatnya masing-masing" ujar guru tersebut kepada Sili Marda.
Semua teman kelas Sili Marda kemudian membantunya mengumpulkan peralatan yang berserakan ke sebuah troli. Setelah semua terkumpul, ia pun berjalan menuju gudang dengan troli yang penuh dengan alat-alat olahraga yang mereka pakai tadi. Seperti; cone, tongkat untuk lempar lembing, kapur bubuk untuk membuat garis beserta alatnya, P3K, peluit, bendera bermotif catur.
Ia berjalan dengan santai sembari menikmati hembusan angin di siang hari yang cukup untuk mendinginkan tubuhnya setelah berkeringat.
"Humm, setelah ini aku beli makanan apa ya? Sandwich dan onigiri sepertinya enak. Untuk minumnya kali ini adalah teh dingin. Jadi, setelah membereskan semua barang ini aku meluncur ke kantin. Wuhuuu!!." Ujarnya riang kepada diri sendiri. Semakin dekat dengan gudang semakin sepi pula suasana di sekitarnya, karena berada di paling ujung bangunan. Hanya suara yang dihasilkan dari ban troli saja yang menemaninya sekarang. Semua murid banyak yang terpusat di kantin saat jam istirahat seperti ini sedangkan kantin berada di ujung yang satunya.
Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya ia sampai di depan gudang tempat yang ia tuju. Dia tidak langsung masuk dan mengembalikan semua barang tersebut namun ia beristirahat dulu di depan teras gudang untuk melepas lelahnya. Ia duduk dan mengambil nafas panjang dari hidung lalu menghembuskannya secara perlahan melalui mulut.
"Akhirnya sampai juga. Aaaaaah, Capeeek, pengen cepet ke kantin..." keluhku. Namun baru saja aku duduk tiba-tiba terdengar suara berisik dari dalam gudang.
"Apa itu? Setan? Tikus? Kucing? atau ada seseorang di dalam sana." Gumamku heran. aku dengan perlahan berjalan mendekati pintu gudang.
Klek klek...
"Loh tapi pintunya terkunci." Aku pun mengeluarkan kunci dari kantung celanaku dan memasukkannya ke dalam lubang.  Setelah tidak terkunci lagi, aku memutar knop pintu dan membukanya secara perlahan. Karena takut suara berisik yang dihasilkan oleh troli yang kubawa, aku pun meninggalkannya di luar.
"Permisi, ada orang disini?."Ucapku namun tidak ada seorang pun yang menjawab.
"Ada orang disini?. Loh, aku kan juga orang. Gimana sih..." Aku berjalan lebih jauh di dalam gudang. Namun tak disangka, saat aku berada di tempang paling ujung gudang ini, terdapat seorang laki-laki atau lebih seperti monyet sedang telanjang dan hanya memakai celana pendek ketat. Ia berbaring di matras yang tertumpuk di sana dan seperti sedang berbicara dengan seseorang tetapi disini kan hanya aku dan dia saja. Dan ia juga memiliki tubuhnya berotot bak aktor film action, tetapi ada sesuatu yang ganjal di sekitar dadanya. Ketika aku mencoba untuk melihat lebih jelas tiba-tiba saja ia terbangun dan menoleh ke arahku. Mata kami pun bertemu pandang untuk beberapa saat.
"EHH.." ucap kami berdua bersamaan.
Ah memalukan sekali, padahal aku ingin menikmati pemandangan itu sedikit lebih lama, hehehe....Aku segera berlari keluar namun ia tetap mengikutiku dengan keadaan seperti itu. dia juga sempat mengatakan sesuatu tetapi aku tidak bisa mendengarnya.
"Apa yang kau lakukan, aku akan berpura-pura tidak melihatnya. Dan juga jangan mengejarku dengan keadaan telanjang dada seperti itu." Ucapku kepada laki-laki itu. 
Tidaaaak, aku harus menambah kecepatan berlariku. Aku terus berlari tanpa melihat ke belakang. Setelah sampai di tempat yang agak ramai yaitu di taman, aku memberanikan diri untuk menoleh kebelakang. Dan akhirnya orang itu tidak mengejarku lagi.
"Gila tuh orang ya. Telanjang di gudang sekolah." Aku pun duduk di bangku panjang yang ada disana sembari menenangkan diri. Namun pikiran itu tidak kunjung hilang juga. 
" Kau harus melupakannya Sil, kau harus melupakannya...Aaaaaah, Tetapi tubuh itu terlalu mempesona untuk dilupakan. Aku harus bagaimana jika bertemu dengannya lagi, karena kami satu sekolah akan sangat mudah untuknya menemukan keberadaanku. Tetapi tidak apa-apa deh kalau dia mau menemuiku. Eh, tapi kan...." ucapku kepada diri sendiri sembari menepuk-nepuk kepalaku dengan pelan.
"Kenapa Sil? kok senyum-senyum sendiri?" ujar seseorang disampingku dan menaruh tangannya di pundakku.
"Whaaa...!!!" Karena terkejut, aku hampir tidak berani untuk melihatnya. Namun secara perlahan otakku sadar jika ini bukan suara lelaki melainkan suara perempuan. Aku melihatnya dengan tatapan heran dan masih dengan wajah panikku. Dan orang itu hanya membalas tatapanku dengan senyum manisnya.
"Ahh, aku kira siapa. Suka banget ya ngagetin orang!" ucapku kepada gadis itu. Ia adalah Keysia Putri, orang pertama yang aku kenal saat pertama kali masuk di sekolah ini dan sampai saat ini hubungan kami sangat dekat. Pada saat itu yaitu hari pertama masuk sekolah aku tidak mendengarkan pidato pengumunan pembagian kelas untuk murid baru dan hanya melamun mengenai hari indahku sebagai siswi SMA yang bahagia dengan banyak pria yang memperebutkanku. Karena hal itulah aku kebingungan ketika mencari kelas, aku naik-turun dari lantai satu sampai empat yang membuatku terlambat karena kelalaianku sendiri. Semua teman kelas tertawa setelah aku menceritakan alasanku terlambat kepada wali kelas.
Saat aku duduk di kursi yang masih tersisa di kelas itu, seorang gadis tersenyum. Pada awalnya aku kira ia meledekku tetapi pada saat jam istirahat dan aku pergi ke kantin kecerobohanku yang lain pun terjadi lagi. Aku lupa membawa dompet dan aku kembali ke kelas dengan tangan kosong juga perut yang keroncongan. Aku hanya tiduran tetapi Keysia melihatku dan membagi bekal makanan yang ia bawa dari rumah.
Ummmmmmm, baik banget sih. Jadi pengen meluk deh. Batinku pada saat itu. Itulah awal kedekatanku dengannya. Kebiasaan Keysia di sekolah adalah pergi ke perpustakaan atau membaca buku di taman, itupun jika tidak ramai.
"Cerita dong. Pasti ada apa-apa!." Paksanya.
"Apa sih. Orang gak ada apa-apa kok." Ungkapku mengelak.
"Hee.....Mmmmm. Yang bener... Eh itu siapa..." ujar Key yang hampir saja membuat jantungku copot.
"Mana..!?" Aku melihat sekeliling dengan panik.
"Tuhkan, pasti ada sesuatu deh.." Goda Key sembari tertawa melihat ekspresiku barusan.
"Diem ih." Ujarku kesal. Tetapi jika aku pikir lagi bukankah wajah lelaki itu mirip seperti dua orang perwakilan murid yang melakukan hal konyol saat acara penyambutan waktu itu?.
---***---
Waaheeenggg....
"Leganya abis bersin.." ujar Al.
"Bersin? Waah, jangan-jangan gadis yang tadi sedang membicarakanku di belakang..." Al merenung sejenak sembari mengenakan bajunya. Setelah pakaiannya lengkap, Al pun kembali ke kelasnya.
Suasana kelas mendadak ramai dengan gerombolan kakak kelas, lebih tepatnya di meja Sheena dan Claude terjadi perdebatan sengit. Aku berjalan menuju tempat dudukku berdesakan melewati kerumunan kakak kelas ini. Aku menarik kursi dan duduk dengan tenang sembari memikirkan rencana selanjutnya. Jika nanti aku bertemu dengan gadis itu lagi aku akan membungkamnya agar tidak menyebarkan kejadian memalukan itu.
"Aku harus menyogoknya dengan apa agar dia diam. Apakah semangkuk bakso cukup?. Bagaimana dengan permen apel? Karena gadis seumurannya itu suka dengan hal-hal manis. Baiklah, ini adalah pilihan terakhir jika semua itu gagal. Aku akan membelikannya satu tiket bioskop lengkap dengan uang jajannya. Seharusnya itu berhasil.... Jika tidak aku akan malu selama tiga tahun ini, BAHKAN SEUMUR HIDUP!....aarrrrggghhhhh!!!." Aku menggaruk kepalaku dan menggeliat seperti cacing kepanasan.
"Kau gila ya..." ucap Dio dengan pandangan anehnya.
"Diam kau manusia purba. Aku harus mengeluarkan semua kekuatan indra keenamku saat ini." Aku menempatkan telunjukku di kening.
"Ya, kau memang gila." jawab Dio.
"Kubilang diam. Aku harus berkonsentrasi"
"Lupakan itu untuk saat ini. Al kau tahu?! Claude dan Sheena dipaksa bergabung ke klub lari. Mereka berdua menolaknya tetapi kakak kelas tetap memaksa mereka bahkan sampai mengejar mereka ke kelas kita. Bisa kau bantu mereka..?" ujar Dio memohon.
"Sejak kapan kau jadi tuanku berani menyuruhku seperti itu!"
"Mau bagaimana lagi, aku ingin membantu mereka berdua tetapi badan kakak kelas itu besar-besar. Jika aku dihajar lalu mati bagaimana?" ujar Dio dengan lirih takut kakak kelas itu mendengar pembicaraannya.
"Lalu? Kau mau aku bagaimana?. Tapi ada satu syarat, kau harus ikut denganku ke sana..."
"Bilang saja mereka telah menjadi anggota dari klub kita yang akan segera dibentuk minggu ini" 
"Kau kira segampang udel tinggal ngomong begitu."
"Terserah deh, pokoknya kau kasih alasan agar Claude dan Sheena lolos dari kakak kelas itu"
Aku bangkit dari dudukku dan berjalan menerobos kerumunan ini agar sampai ke tempat Sheena dan Claude. Mereka berdua tampak kewalahan menghadapi kakak kelas ini tetapi saat Sheena melihatku, matanya berubah berkilauan seperti anak kucing yang minta dielus oleh pemiliknya.
"Maaf kak, mereka berdua adalah anggota klub ku" aku mencoba bersikap sopan. Dan seketika itu juga semua orang terdiam mendengar perkataanku barusan.
"Apa benar mereka anggota klub mu?" Teriak seseorang dari belakang dengan nada meremehkan. Kerumunan itu mendadak terbelah menjadi dua dan seorang lelaki berjalan dari tengah barisan tersebut. Wuaah, seperti film-film saja. Ucapku dalam hati. Orang itu berjalan ke arahku dan saat ini kami saling berhadapan, ia menatapku dengan tatapan sinisnya. Wajarlah, karena biasanya seorang kakak kelas tidak mau dipandang remeh oleh adik kelasnya jadi mereka sebisa mungkin berlagak sombong dan sok kuat.
"Apa benar mereka anggota klub mu?" ia mengulangi ucapannya yang tadi.
"Ya benar. Mereka adalah anggota klub ku"
"Klub apa?" Ujarnya. Sialan langsung to the point. Kalau begitu aku sedikit mempermainkannya, dan pasti dia akan langsung marah. Hahaha, aku sudah tahu alur mainstream di kehidupan ini. Setiap senior akan selalu merasa lebih terhormat daripada juniornya.
"Klub apapun itu bukan urusanmu karena mereka sudah menjadi anggota klub ku saat ini" ucapku dengan nada tidak antusias.
"Bocah!, bisa kau jaga mulutmu itu. Kau tidak tahu sedang berbicara dengan siapa?."
"Maaf." Aku mengatakannya dengan penuh penyesalan tetapi di dalam hatiku tertawa dengan sifat bodoh orang tersebut. Mana mungkin aku mengenalnya, bertemu saja baru kali ini.
"Sebenarnya kami belum menentukan namanya, tetapi permohonan untuk membentuk klub baru akan segera kami kirimkan kepada yang bertanggung jawab di sekolah ini" Ujar Dio yang saat ini berdiri di sampingku.
"Jadi klub mu itu belum diresmikan bukan. Kalau begitu boleh dong bagiku untuk merekrut mereka ke dalam klub lari?"
"Tentu saja boleh, tetapi apakah kau tidak mendengar bahwa mereka telah menolak ajakan kalian semua." ucapku dengan santai.
"Lalu kenapa kalau mereka menolak? Kami sebagai klub lari tidak akan menyerah untuk merekrut orang-orang yang berbakat walaupun harus dengan cara memaksa!." Sombong sekali orang ini berbicara, dan kenapa banyak sekali masalah sih hari ini. Aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah lalu bermalas-malasan di kamar. Tapi bagaimanapun aku harus menolong Claude dan Sheena walaupun kami baru kenal beberapa hari. Dan ini juga situasi yang tepat untuk memfilter apakah mereka pantas untuk menjadi temanku atau tidak kedepannya.
"Maksudmu adalah kau mengemis kepada orang yang lebih hebat darimu dan jika mereka menolaknya kau akan membawa komplotan lebih banyak agar kau menang jika adu mulut dengannya dan mereka pun secara terpaksa akan bergabung dengan klub milikmu. Dan juga kau takut jika klub milikmu itu akan hancur dan dibubarkan oleh kepala sekolah karena tidak memiliki prestasi apapun..!!! Benar begitu bukan wahai kakak kelas yang terhormat?." Aku menampilkan senyum sinisku. Setelah aku mengucapkan kata-kata seperti itu semua orang terdiam. Sementara itu Sheena dan Claude melihat ke arahku dengan khawatir, sepertinya mereka takut jika aku akan terlibat masalah yang lebih serius setelah ini. Padahal aku sengaja melakukannya.
"Kubilang jaga mulutmu!" Dia menarik kerahku ke atas sembari mengeraskan rahangnya tanda sedang marah.
"Sebaiknya kau jaga sikapmu itu. Jika Gery sampai marah, kau akan berada dalam bahaya" ujar salah satu anggota klub lari yang ada diantara kerumunan ini.
"Gery?" tanyaku.
"Ya, namaku Gery. Lalu mau apa kau?!" ujarnya.
"Maaf untuk sebelumnya, bisa kau lepaskan aku?. Aku takut jika seragam baruku ini rusak karena kau perlakukan dengan kasar."
"Al, hentikan. Kami baik-baik saja kok. Aku tidak mau jika kau terlibat masalah karena kami." ujar Sheena khawatir.
"Benar Al. kami akan membicarakannya baik-baik dengan mereka" sambung Claude.
"Bagaimana caranya? Sedangkan mereka akan merekrut siapapun walau dengan cara memaksa" ucapku.
"Errrrr... Kalau itu..." Claude tampak kebingungan ingin menjawab apa karena merasa terintimidasi dengan keberadaan kakak kelas yang ada di sekeliling mereka.
"Kau takut?" ucapku kepada Claude lalu kembali memandang kakak kelas yang sombong ini sembari tertawa kecil. Uhh, menakutkan sekali beradu tatapan dengan orang ini. Mataku sudah pedas walaupun melek biasa sementara dia masih saja kuat untuk melotot dan tidak berkedip sekalipun.
"Bajingan! Kau menantangku hah!" ia mendorongku kebelakang tetapi aku dengan cepat mengambil posisi bertarung dan menarik bajunya sehingga ia juga ikut tertarik bersamaku. Ia terjatuh kedepan karena aku menariknya dengan keras. Seluruh orang yang ada di kelas ini bersorak ramai berharap akan terjadi perkelahian hebat. Dan jika itu terjadi, aku akan berlari keluar kelas mengelilingi gedung sekolah sembari kucing-kucingan dengannya.
"Kau baik-baik saja?" aku mengulurkan tangan kepadanya tetapi ia menangkisnya karena tidak mau egonya hancur di depan teman-temannya.
"Aku akan benar-benar menghajarmu sekarang!" ia kembali bangkit dengan tangannya yang mengepal. Disaat aku bersiap untuk kejadian terburuk, seorang gadis datang dari arah pintu kelas dan berteriak membubarkan kerumunan ini..
"Hentikan itu! kalian ini selalu saja berbuat onar. Sudah kubilang jika kalian melakukan hal ini lagi, aku tidak akan segan-segan untuk memberikan hukuman terburuk kepada kalian semua!!" ujarnya dengan tegas. Siapa dia? Hebat sekali bisa berbicara seperti itu kepada orang-orang ini. Ummm, tapi sepertinya aku pernah melihatnya. Kalau tidak salah ia mirip seperti ketua osis yang berdiri di podium pada saat penyambutan murid baru.
"Yang benar saja Gracelia. Anak itu duluan yang memulainya, ia bahkan menantang Gery berkelahi." Ujar salah satu kakak kelas. Ia pun menghampiri Gery dan menyuruhnya untuk menyudahi hal ini ketimbang mendapat masalah.
"Ck, dasar Gracelia menganggu kesenanganku saja." Ujar Gery melihat Gracelia mendekati kami berdua.
"Dengar bocah, untuk saat ini aku akan membiarkanmu. Tetapi karena kau telah berani menantangku, kau tidak akan pernah luput dari penglihatanku. Namaku Gery dan juga sebagai ketua dari klub lari. Kau bisa bertanya kepada siapapun tentangku di sekolah ini. Dan saat kau mengetahuinya, kau akan menyesal karena telah berurusan dengan siapa.... Dan ingat juga satu hal ini, aku tidak akan segan-segan melakukan hal buruk kepada orang yang tidak aku sukai!" Gery mengucapkan kalimat terakhirnya dengan nada mengancam. Ia pun pergi meninggalkanku bersama dengan teman-temannya. Raut mukanya terlihat sangat kesal dan ia melihatku dengan tatapan tajam di depan pintu sebelum mereka semua benar-benar hilang dari pandanganku.
"Al, kau ini benar-benar bodoh ya! Ck ck ck.." ujar Dio sembari menggelengkan-gelengkan kepalanya.
"Tumben kau banyak bicara, biasanya kau lebih banyak diam dan tidak tertarik dengan orang-orang seperti itu." sambungnya. Aku pun memitingnya dari belakang...
"Jangan lupa bahwa kau yang membawaku ke dalam hal ini dasar otak kedelai."
"Le... Le-pas-kan aku, aku tidak bisa bernafas."
"Hei, kalian baik-baik saja? Apa kalian terlibat masalah dengan Gery?. Aku adalah Gracelia, ketua osis periode sekarang." Ternyata benar, dia adalah ketua osis yang saat itu.
"Ah, maaf kak. Ini hanya kesalahpahaman saja kok. Tidak perlu khawatir. Hehe..." Ucap Sheena sembari menundukkan badannya. Tapi karena cara bicara Sheena yang aneh dan juga intuisinya sebagai wanita, Gracelia pun mendekatkan wajahnya dan menatap mata Sheena dengan teliti sembari menempatkan tangannya ke dagu.
"Hmmmm. Baiklah, aku mengerti...." Ujar Gracelia sembari menganggukan kepalanya, dan ia pun menjauhkan kembali wajahnya dari Sheena.
"Tidak apa jika kalian tidak mau mengatakannya. Tetapi sebaiknya kalian jangan berurusan dengan Gery, dia itu orangnya sangat temperamental. Dan jika kalian terlibat masalah dengannya, harap segera hubungi aku ya. Aku pasti akan membantu kalian." Ia tersenyum sembari mengelus kepala Sheena. Sheena yang kaget dengan perlakuan Gracelia pun hanya terdiam.
"Kak, selanjutnya aku dong." Dio mendekatkan kepalanya di depan Gracelia berharap akan dielus juga.
"Hentikan itu, menjijikan sekali..." ujarku kepada Dio sembari menjambak rambutnya.
"Hahaha, kalian ini orangnya menarik juga. Kalau begitu aku pergi dulu. Hubungi aku jika terjadi sesuatu kepada kalian ya!. Bye bye.." Gracelia pun pergi meninggalkan kelas kami sembari melambaikan tangannya dan tersenyum.
"Al bagaimana ini?!" ujar Claude dengan khawatir.
"Apanya?" Tetapi aku membalasnya dengan singkat lalu kembali ke tempat dudukku untuk memikirkan strategi selanjutnya agar gadis yang tadi kutemui tidak menyebarkan kejadian memalukan itu kepada orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar